POSMEDAN – Seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur, salah satu upaya pemerintah terus berupaya membenahi dan memperkuat industri baja nasional.

Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah berinisiatif memiliki kapasitas produksi baja yang besar untuk mewujudkan negara mandiri dari impor baja. Sebagai salah satu prioritas mother of industry, produk industri baja merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri dan penopang pembangunan infrastruktur.

Keyakinan dan kerjasama apik antara pemerintah dan pihak swasta kecil akan membuat Indonesia memasuki era kemandirian dalam industri baja.

Tatalogam Group sebagai perusahaan baja terbesar di Indonesia sangat peduli dengan tekad memajukan industri baja. Berbagai penghargaan baik dalam maupun luar negeri sudah diterima oleh Tatalogam.

Berangkat dari usaha rumahan tahun 1998 dimana situasi ekonomi saat itu sangat sulit, terutama bagi UKM yang baru mulai. Namun, Tatalogam terus berusaha, tak terhitung bagaimana sulitnya mendapatkan bahan material yang harganya tiba-tiba melonjak dari Rp 12.000 menjadi Rp 16.000.

Jalan usaha yang tidak mudah membuat Tatalogam Group terus berusaha agar perusahan ini bisa selalu berinovasi dan memiliki kemampuan (ability) yang tinggi dalam mengatasi suatu krisis. Namun, Tatalogam melihat krisis ini sebagai ombak, jadi pengusaha siap dengan alat luncurnya maka perusahaan itu akan bertumbuh dan tentu kalau perusahaan bertumbuh, Jelas Stephanus Koeswandi selaku Vice President TATA LOGAM GROUP saat webinar ”Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Perumbuhan Ekonomi Nasional” Kamis, (7/10/2021).

Bagaimana peran pemerintah dan swasta dapat berkolaborasi menciptakan industri baja nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir, penggunaan teknologi pendukung yang modern, kebijakan pemerintah yang mendukung yang pada akhirnya dapat mencapai kemandirian industri baja nasional mejadi fokus utama webinar yang diadakan oleh tiga kementerian dan Tatalogam Group.

Hadir sebagai narasumber lain adalah Taufiek Bawazier sebagai Direktur Jendral ILMATE KEMENTERIAN INDUSTRI RI, Aries Indanarto, Staf Ahli Pengembangan Sektor Investasi Prioritas KEMENTERIAN INVESTASI, Iwan Suprijanto Direktur Prasarana Strategis Direktorat Jendral Cipta Karya KEMENTERIAN PUPR.

Tatalogam Lestari merupakan perusahaan genteng metal dan baja ringan terbesar di Indonesia, selalu menghadirkan inovasi produk yang baik dan berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan diraihnya beberapa penghargaan dari lembaga independen REBI (Rekor Bisnis Indonesia), OCI (Outstanding Corporate Innovator) dan TOP BRAND.

Kini Tatalogam Group menjadi pionir dalam hal kualitas dan kinerja pada sektor industri manufaktur dengan menghasilkan berbagai produk berkualitas yang sudah mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) serta mampu mengekspor produk ke luar negeri sebagai bagian dari ekspansi usaha.

Pencapaian luar biasa untuk Tatalogam Group, yaitu ASTM & FM Approved. Dimana produk Simantap berhasil lulus uji coba kualitas bahan baku dan barang industri. Dan terverifikasi oleh FM Approval, dengan standar kualitas dunia.

ASTM (American Society for Testing and Materials) merupakan standar global untuk hasil uji kualitas bahan baku dan barang industri yang diakui di seluruh negara di dunia. FM Approvals adalah standar verifikasi produk yang dimaksud telah memenuhi standar kualitas global guna pencegahan kerugian, integritas teknis dan kinerja.

Salah satu produk unggulan TATALOGAM lainnya adalah genteng TASO. TASO adalah satu-satunya baja ringan di Indonesia yang memiliki sertifikat SNI 8399:2017 dan TOP BRAND sekaligus.

TASO berbahan baku baja Hi Ten 550 dengan spesifikasi dan standar SNI sehingga terjamin KUAT, TIDAK MELENDUT, TIDAK MELINTIR, TAHAN KARAT dan AMAN untuk segala macam genteng.

Berbagai produk unggulan Tatalogam lainnya adalah rumah instan siap huni DOMUS yang siap huni hanya dalam waktu 5 hari, genteng Multi Sirap, atap gelombang instan SAKURA, kerangka baja ringan TASO.

Baja merupakan mother of in street terutama untuk sektor kontruksi dan manufaktur. Yang menarik adalah bahwa pertumbuhan sektor kontruksi itu sudah mulai tumbuh pada kisaran 5 sampai 5,5 % dari 2016 sampai 2021. Melewati masa pandemi nyatanya Indonesia justru mengalami pertumbuhan surplus pada sektor konstruksi surplus, yang mencapai 4,2%.

Sementara kita melihat bagaimana pertumbuhan sektor kontruksi di antisipasi oleh Kementerian perindustrian dengan pengembangan kapasitas baja nasional, dimana ditargetkan dalam periode 2020 sampai 2024 terjadi peningkatan kapasitas sebesar 17 to. Dan hal ini dibuktikan oleh pemerintah dimana hingga pertengahan tahun sudah terealisasi dengan penambahan kapasitas sebesar 11,7 juta ton.

Sedangkan penurunan justru terjadi pada periode 2025 – 2030 sesuai dengan Rencana Induk Nasional, dimana direcannakan terjadi penambahan kapasitas baja nasional sebesar 25 juta ton. Hal yang sangat luar biasa karena ini memerlukan investasi yang sangat besar, dimana investment untuk unsur baja itu antara 500 ribu sampai 1 juta.

Indonesia pada tahun 2025 – 2030 memerlukan investor yang bersedia menyandang dana 25 milyar US Dollar dalam kurun waktu 5 tahun. Ini luar biasa karena disatu sisi kita juga melihat ada tanda tanda celah investasi dari sektoran logam dasar semakin lama semakin meningkat.

indikasi di pertengahan 2021 sudah mencapai 57,57 sekian triliun yang diprediksikan ditahun 2021 pencapaiannya akan melebihi tahun 2020.

Kemudian yang menarik adalah bahkan investasi PMDN itu ada indikasi kecenderungan menggeser PMA kalo di sektor logam dasar, ini lah yang menjadi perhatian bahwa Indonesia itu memang menarik untuk menjadi berbagai investasi di sektor ogan dasar dan khususnya di besi baja.

Seperti tadi yang di sampai kan pak aris ya? Ternyata juga terjadi penaikan investasi di ikuti penjabaran investasi, mulai dari kepulauan riau, Kalimantan barat, Sulawesi tengah, Sulawesi tenggara termasuk Maluku utara, yang biasnya selama ini lebih didominasi oleh investasi di pulau jawa.

Kemudian yang lingkupnya RAPBN pembangunan inprastruktur tahun 2022 di cenangkan 384,83 triliun, ini konsepnya kalau tidak salah sekitar 15% sampai 17% lebih tinggi dari tahun 2021, dan kemungkinan proyek inprastruktur Indonesia tahun 2020 sampai 2024 itu memerlukan dana sekitar 5500 triliun.

Kemudian pencapaian kinerja import ekspor sampai semester 1 (2021), impor mencapai 6 juta- 6,5 juta ton sementara ekportnya mencapai 6,4 juta ton, tapi tetap memberikan positif rasa perdagangan, mudah mudahan expansi kita pada tahun 2025 sampai 2030.

Penurunan import itu juga akan mencapai titik yang rendah, sementara peningkatan produksi dalam negeri juga di titik lebih tinggi lagi.

Pada prinsipnya pengembangan strategis nasional tidak terlepas dari keberpihakan dan peranan pemerintah dalam pengembangan industri nasional sebagai pilar pembangunan ekonomi negara sebagaimana tertuang dalam PP No.28 tahun2021 dimana industri nasional merupakan pilar pertumbuhan ekonomi negara.

Kementrian Investasi, Kementrian Industrian dan Kementrian PUPR merupakan visual emas pengembangan dan pengolahan industri nasional.

Demikian pula dalam mini industry bagian nasional dan penggunaan produk-produk nasional dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional, jadi diharapkan ketiga kementerian tersebut mampu bersinergi lebih kuat karena kemungkinan kedepan makin berat, harus kerjasama, kolaborasi, dan integrasi.

Semoga ke depannya pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Top Heat di tahun 2024 menjadi harapan bagi kita semua, khususnya bagi pemerintah Indonesia. (TS)

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.